Behind the code..
Manajemen Turnaround
Kiat-kiat Bisnis Terbaik dari Pengalaman Indonesia (Case Studi Asia)
Buku ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama membngan mengenai “Krisis dan Turnaroundâ€, Bagian kedua berisi “Kiat-kiat Menanggulangi Krisisâ€, bagian tiga tentang “Kiat-kiat menangkal krisis, dan bagian empat berisi profil-rofil perusahaan studi kasus. Pada presentasi ini hanya dibahas beberapa perusahaan pada bagian 2 .
Garudafood
Adanya kenaikan bahan baku, seperti kacang tanah yang berlipat ganda, maka garudafood memperkenalkan berbagai makanan kudapan dalam ukuran kemasan yang lebih kecil. Isi dari produk dengan kemasan yang lebih kecil ini berkurang 50% demikian juga bahan kemasannya. Kemasan yang lebih kecil ini ternyata lebih menguntungkan dibandingkan dengan kemasan sebelumnya, karna harga dikurangi kurang dari 50%. Oleh karena harga kemasan kecil ini lebih terjangkau, maka angka penjualan lebih meningkat hanya dua bulan setelah peluncurannya. Selama masa krisis, angka keuntungan berbagai produk untuk segmen bawah dengan harga yang murah justru melebihi produk-produk untuk segmen atas.
Blue Bird
Selama puncak berkecamuknya krisis, yakni ketika terjadi kerusuhan dijalan-jalan dan kekerasan masa diberbagai kota besar di Indonesia, Blue Bird, menyediakan layanan transportasi dan memberikan bantuan mengungsikan tenaga ahli asing, personil kedutaan serta warga asing lain yang ketakutan. Oleh karna kehandalan sistemnya, terutama jaringan komunikasinya, maka Blue Bird merupakan penyedia layanan pilihan selama masa-masa tersebut. Blue Bird dikenal sebagai pelopor dalam melakukan instalasi teknologi muktahir pada kendaraan-kendaraannya di Indonesia, termasuk agrometer, AC, dan radio GPS (Global Positioning System).
Samsung Corporation di Korea
Samsung Corporation, yang merupakan perusahaan dagang korea terbesar, menginvestasikan US$50 juta kepasar internet setelah perusahaan perantara dagang tradisionalnya dihantam oleh krisis asia pada tahun 1997. Perusahaan ini adalah unit utama perusahaan Grup Samsung yang pada masa itu memiliki hutang sebesar US$23.4 milyar. Samsung Corp., melalui prakarsa vice president dan perencana bisnis utamanya, Lim Young Hak, mendirikan B2B (Business to Business) atau perdagangan barter bisnis untuk produk baja, bahan kimia, dan produk perikanan. Saat perusahaan-perusahaan lain melakukan penghematan biaya selama masa-masa sulit, maka Samsung Electronics, perusahaan teknologi milik kelompok Samsung, dan dianggap perusahaan teknologi yang paling menguntungkan di dunia; saat didera krisis Asia serta harga chip yang jatuh, malahan justru melakukan investasi pada riset dan pengembangan, terutama untuk mengembangkan telepon genggam yang ditujukan untuk menembus pasar AS dan memperoleh devisa.
Hotline
Ketika krisis mencapai puncaknya, Hotline Advertising tidak punya bisnis apapun, tidak ada proyek periklanan baru selama 3 bulan. Selama masa itu, para karyawan minta bertemu dengan manajemen dan menawarkan agar gaji mereka dipotong 50% demi membantu perusahaan menghadapi masalah finansialnya. Namun, pihak manajemen tidak menganggap pengurangan gaji mereka sebagai penghematan biaya, tetapi menaruh biaya yang dihemat ini dalam rekening terpisah. Pemotongan gaji ini nantinya dibayarkan kembali kepada karyawan ketika bisnis telah pulih.
Siam Cement
Turnaround yang sukses yang dijalankan oleh Siam Cement juga adalah berkat transparansi dan keterbukaan dari CEO perusahaan, yaitu Chumpol NaLamlieng, kepada para bankir grup perusahaan ini mengenai situasi yang mereka alami. Ia mengisahkan kembali pengalamannya: “Kami berlutut dan memohon kepada mereka agar tidak meninggalkan kamiâ€. Serta berjanji untuk membayar semua bunga, dia berkomitmen untuk menjual semua bisnis yang bukan inti, memastikan diperolehnya likuiditas secara intern, dan menerbitkan obligasi local untuk mengurangi hutang sebesar US$4.6 miliar. Meskipun banyak perusahaan di Thailand yang tengah terguncang berupaya tidak bertemu atau menghindari para kreditor mereka , tetapi Siam Cement dinilai sangat terpuji dalam usahanya untuk menemui para bankirnya, dan menyampaikan berbagai upaya pemulihan perusahaan.
Adapun hikmah dan kiat-kiat dalam menganggulagi krisis dari cerita diatas adalah:
1. Diversifikasi ke produk dan jasa yang terjangkau
2. Inovasi produk dan jasa untuk masa krisis
3. Peluang ekspansi usaha dimasa krisis
4. Kemitraan Manajemen dan Karyawan
5. Transparansi kepada para kreditor
| Print article |