Oleh: Ronny Kountur, Ph.D
(Artikel ini pernah dimuat di majalah Eksekutif, April 2007
)
Pendahuluan

Sikap orang ketika menghadapi risiko bisa berbeda-beda. Ada orang yang berusaha untuk menghindari risiko, namun ada juga yang sebaliknya sangat senang menghadapi risiko sementara yang lain lagi mungkin tidak terpengaruh dengan adanya risiko.

Pemahaman atas sikap orang terhadap risiko ini bisa membantu untuk mengerti betapa risiko itu penting untuk ditangani dengan baik.

Teori Utilitas dan Risiko

Teori tentang utility (utility theory) dapat digunakan untuk menjelaskan sikap orang tehadap risiko. Menurut teori ini, ada tiga kelompok orang:

  1. kelompok orang yang tidak menyukai risiko,
  2. kelompok orang yang tidak terpengaruh dengan adanya risiko, dan
  3. kelompok orang yang senang menghadapi risiko.

 

Ketiga kelompok orang ini dapat dijelaskan dengan melihat hubungan antara kekayaan dan manfaat (utility) seperti yang nampak pada Gambar 1.

 

 

Perhatikan garis A. Pada saat seseorang memiliki kekayaan Rp 10, kemudian kekayaannya naik Rp 5 menjadi Rp 15, dia mendapatkan utility sebanyak 2 util (sebutan untuk ukuran utility atau manfaat) yaitu dari 10 util menjadi 12 util. Jika util ini menunjukkan kenikmatan, maka dengan kekayaan naik Rp 5 dia mendapatkan kenikmatan sebanyak 2. Namun, jika dia menderita kerugian dimana kekayaannya berkurang dengan jumlah yang sama yaitu Rp 5 kenikmatan yang dia korbankan sebanyak 4 util yaitu turun dari 10 util menjadi 6 util. Dengan perubahan kekayaan yang sama, dia akan lebih menderita jika rugi dari pada jika untung. GAMBAR 1. Utility theory of risk

Lain halnya dengan garis B. Besarnya utility atau manfaat yang diperoleh dari penambahan kekayaan sama dengan besarnya utility yang dikorbankan dari pengurangan kekayaan dengan jumlah yang sama. Misalnya jika kekayaan bertambah Rp 5, utility yang dia terima adalah sebesar 3 util. Jika dia rugi Rp 5, utility yang dia korbankan juga sama dengan 3 util.

Garis C menunjukkan keadaan dimana utility yang diterima dengan adanya peningkatan kekayaan lebih besar dari utility yang dikorbankan dengan penurunan kekayaan pada jumlah yang sama. Keadaan seperti ini dikenal dengan istilah increasing marginal utility of wealth. Semakin meningkat kekayaan, semakin besar utility yang diterima. Peningkatan kekayaan akan memberikan utility yang lebih besar daripada utility yang dikorbankan jika kekayaan berkurang dengan jumlah yang sama.

Aplikasi Teori Utilitas pada Risiko

Garis A ini yang dikenal dengan istilah diminishing marginal utility of wealth, dimana semakin banyak kekayaan yang diperoleh, pertambahan manfaat (utility) dari kekayaan ini semakin kecil. Sebaliknya semakin kecil kekayaan, semakin besar manfaat atau utility yang dikorbankan. Jika diaplikasikan pada risiko, semakin rugi, semakin besar penderitaan atas kerugian tersebut dibandingkan dengan kenikmatan yang diperoleh jika menguntungkan. Ini yang menjelaskan mengapa orang tidak suka menderita kerugian. Sebab semakin rugi dia, penderitaan yang dia terima akan semakin besar.

Orang yang tergolong pada garis A ini adalah orang yang berusaha sebisa mungkin untuk menghindari risiko. Kelompok orang ini yang dikenal dengan orang-orang yang risk avert. Pada umumnya atau sebagian besar orang berada pada kelompok ini.

Garis B ini dikenal dengan istilah constant marginal utility of wealth. Orang yang tergolong pada garis B ini adalah orang yang tidak terpengaruh dengan adanya risiko. Kelompok orang ini yang dikenal dengan orang-orang yang indifferent to risk. Hanya sebagian kecil orang yang masuk pada kelompok ini.

Orang pada kelompok garis C yang kadang-kadang disebut risk taker adalah mereka yang menyenangi risiko. Mengapa? Karena kebahagiaan (jika itu yang diukur dengan utility) yang dia terima jika berhasil lebih besar dari sengsara yang dia derita jika rugi dengan jumlah yang sama. Hanya sedikit orang yang berada pada kelompok ini.

Kesimpulan

Pada umumnya manusia itu risk averter, berusaha untuk menghindari risiko oleh karena penderitaan yang dia alami lebih besar dari kesenangan yang diterima apabila terjadi kerugian. Sikap orang terhadap risiko ini yang menjelaskan mengapa risiko itu sangat penting untuk ditangani. Sedikit saja kerugian, penderitaan yang dirasakan lebih besar daripada penambahan keuntungan dengan jumlah yang sama seperti yang digambarkan oleh garis A diatas.

sumber: http://www.lppm.ac.id